"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
- QS. Ar-Rum : 21 -
Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Ya Allah semoga ridho-Mu tercurah mengiringi pernikahan kami:
Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i, untuk menghadiri acara pernikahan kami pada:
Awal Pertemuan
Semua berawal pada tanggal 7 Februari 2025 — hari di mana untuk pertama kalinya kami dipertemukan secara langsung. Saat itu, dia datang ke rumahku. Bukan di tempat ramai, bukan di luar sana, tapi di rumah, tempat yang terasa paling nyaman dan aman untuk pertemuan pertama kami. Entah kenapa, sejak hari itu, langkah kami terasa seperti mulai diarahkan ke jalan yang sama.
Pertemuan Kedua
Setelah pertemuan pertama kami di awal Februari, Ramadan datang dan kami menjalani satu bulan tanpa bertemu. Lalu, pada 8 April 2025, kami dipertemukan kembali—kali ini dengan suasana yang berbeda.
Di pertemuan kedua ini, dia datang lagi ke rumah. Tapi bukan sekadar berkunjung. Ia datang dengan niat yang lebih serius: membicarakan masa depan, meminta restu pada kedua orang tuaku. Saat itu juga, dia bertemu dengan kakakku, iparku, dan adikku untuk pertama kalinya.
Dan di hari itu pula, untuk pertama kalinya, kami berjalan berdua di luar rumah—bukan sekadar jalan-jalan, tapi melangkah ke arah yang sama, perlahan tapi pasti.
Pertemuan Ketiga
Tanggal 10 April 2025 menjadi langkah besar dalam perjalanan kami. Untuk pertama kalinya, kedua keluarga dipertemukan dalam satu meja. Ia datang bersama orang tuanya, dan aku didampingi oleh seluruh keluargaku—kakakku, adik, dan orang tua tercinta.
Hari itu bukan sekadar pertemuan, tapi awal dari penyatuan dua keluarga. Di sana, kami membicarakan rencana besar: pernikahan. Suasana hangat, penuh doa dan harapan. Rasanya seperti semua kepingan cerita yang tersebar selama ini, akhirnya mulai tersusun menjadi satu
Pertemuan Keempat
Tanggal 14 April 2025 menjadi momen penting dalam perjalanan kami. Kali ini, orang tuaku berkunjung ke rumahnya—sebuah langkah yang dikenal dalam adat Minang sebagai "Manjapuik etongan".
Di pertemuan ini, kedua keluarga duduk bersama untuk menyatukan pandangan dan harapan. Mulai dari hari pernikahan, persiapan, hingga adat yang akan dijalani, semuanya dibahas dengan hangat dan penuh kekeluargaan.
Hari itu bukan hanya tentang rencana, tapi tentang kesepakatan hati yang dipeluk oleh dua keluarga. Doa-doa terbaik pun mengalir, menandai langkah kami menuju hari bahagia.
Pertemuan Kelima
Pada tanggal 25 April 2025, kami kembali dipertemukan dalam suasana yang begitu sakral dan penuh makna. Kali ini, seluruh keluarga besar dari kedua belah pihak—termasuk para mamak—berkumpul dalam satu rumah, untuk menjalani prosesi adat Minang: Mangaku mamak dan timbang tando.
Di hari itu, bukan hanya dua hati yang dipersatukan, tapi dua suku, dua garis keturunan, dan dua keluarga besar yang sepakat mengikat janji dalam adat dan kehormatan. Hari pernikahan pun resmi ditetapkan, membawa kami selangkah lebih dekat menuju hari bahagia.
20 Juni 2025 — hari di mana kami akan mengikat janji suci, di hadapan Tuhan dan keluarga tercinta
Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi Bapak/Ibu/Saudara/i yang ingin memberikan tanda kasih untuk kami, dapat melalui:
Atas kehadiran dan doa restu yang Bapak/Ibu/Saudara/i berikan, kami ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua